PROFILE OF THE MONTH – OKTOBER 2021

ANNA HENNA PURWOREJO

Jika mendengar nama Anna Henna, yang pertama muncul di kepala saya adalah kuku-kuku cantik dan juga desain henna yang rapi. Kak Anna yang berdomisili di Purworejo Jawa Tengah memang dikenal dengan karya-karya elegannya pada Nail art dan Henna. Karya-karyanya dapat di cek di halaman Instagramnya Anna Henna Purworejo dan Kuku Cantik Anna.

Asal Mula

Tahun 2012, berawal dari rekan kerja waktu masih tinggal di Karawang yang menikah dan menggunakan ukiran henna di tangannya. Kak Anna yang memang sejak awal hobi menggambar merasa heran dan penasaran.

“Apa ini? Kok bagus, ya. Bikinnya di mana?”

Setumpuk pertanyaan ia ajukan kepada temannya. Karena tidak puas dengan jawaban tersebut, akhirnya Kak Anna meminta kontak Henna Artist yang menggambar tangan temannya. Begitu mendapatkan kontak si Henna Artist, ia pun lansung menghubungi dan menanyakan berbagai macam hal. Yang pertama ia tanyakan adalah, apakah Henna Artist tersebut menjual bahan henna, dan sayangnya jawabannya tidak.

- Advertisement -

Meskipun menemui jalan buntu, tapi Kak Anna tidak berhenti sampai di situ. Ia mulai mencari-cari informasi sendiri dari Facebook tentang henna, sambil melihat-lihat desain-desain henna di Google. Hingga akhirnya ia menemukan salah satu penjual bahan henna yang merupakan Founder HCI (Henna Club Indonesia), yakni Kak Yuliastuti Sri.

Ia yang tadinya berlatih menggambar desain henna menggunakan spidol, pulpen, dan pensil, akhirnya dapat berlatih dengan henna yang dibelinya dari Kak Yuliastuti Sri.

Kak Anna masih ingat kala itu ia membeli 2 cone. Karena memang niatnya untuk mencoba dulu, begitu barang ia terima, ia dengan sok tahu langsung menggunting ujung cone dan mulai menggambar di kertas. Ia sendiri belum percaya diri jika harus menggambar di kulit.

Sejak saat itulah Kak Anna mulai serius mempelajari henna. Kapan pun ada waktu luang, ia selalu berlatih di kertas. Ia baru menyadari ternyata belajar memegang cone untuk pemula sangatlah sulit. Maka dari itulah ia rajin berlatih. Membuat cone pun ia pelajari sendiri dengan membeli cone kosong dan membongkarnya. Ia pelajari bagaimana kira-kira membuat cone t ersebut. Setelah beberapa kali percobaan akhirnya ia berhasil.

Ia sangat terbantu karena menjadi anggota HCI. Meskipun jarang memposting hasil karyanya, tapi ia rajin menyimak setiap kali ada anggota yang sharing tentang henna. Ia pun hanya sesekali ikut berkomentar di postingan anggota yang lain, karena ia sendiri masih merasa awam dan minder.

Kak Anna banyak belajar dari HCI. Dari sana jugalah ia mengenal henna natural dan henna pabrikan. Setiap menyimak obrolan para member, ia berusaha untuk mengambil poin-poin yang menurutnya penting untuk dipelajari lebih lanjut. Seperti tentang meracik henna natural. Apa yang mereka jelaskan, ia catat, kemudian ia praktekkan. Beginilah caranya belajar secara otodidak. Hanya memanfaatkan sela-sela waktunya berkerja di kantor. Setiap merasa penat dengan pekerjaan pun, ia biasanya menggambar. Bahkan dari masih sekolah, ia sudah suka menggambar, meskipun ia terus-terusan dimarahi oleh kedua orang tuanya karena lebih banyak menggambar daripada belajar.

Semakin hari, semakin banyak teman kantor yang tahu kalau ia sedang mempelajari seni Mahendi ini. Sampai akhirnya beberapa teman dengan sukarela menyodorkan tangannya untuk ia jadikan kelinci percobaan. Padahal waktu itu Kak Anna merasa masih belum lancar mengendalikan cone. Sampai pada suatu hari, salah satu teman dari departemen lain akan menggelar pesta pernikahannya. Dan ia diminta untuk menghenna si pengantin. Awalnya ia menolak karena merasa belum percaya diri, tapi karena si calon pengantin terus memaksa, akhirnya ia pun mau.

Kak Anna masih ingat jelas, waktu itu ia menggambar H-1 acara dan menggunakan henna pabrikan, di tanggal 16 Agustus 2013. Hasil akhirnya sangat jauh dari sempurna itu, tapi tetap dengan percaya diri ia pamerkan hasil karyanya di Facebook.

Dari situlah akhirnya semakin banyak orang tahu dan ingin memesan jasanya. Sebenarnya masih banyak keraguan di benaknya, tapi ia nekat. Menurutnya, kegiatan ini akan menyenangkan, ia bisa menyalurkan hobinya.

Jujur waktu itu ia belum berniat menjadi Henna Artist dan fokus di pekerjaan itu. Tapi semakin hari alhamdulillaah semakin diterima di masyarakat. Berhubung ia kerja nonshift (selalu shift 1) jadi kadang ia mengerjakan henna sepulang kerja dan menyelesaikan job hennanya hingga larut malam.

FOKUS

Tak berapa lama kemudian, ia resign dari kantor, dengan alasan ingin fokus untuk mengurus rumah tangga. Saat itu masih belum terpikirkan untuk fokus di dunia henna. Jadi ia bisa berangkat ngejob henna di pagi hari jika suaminya masuk shift sore atau malam. Karena mereka harus bergantian menjada anak pertama yang baru berusia sekitar 3th.

Tahun 2016 suaminya memutuskan untuk pindah ke Purworejo. Awalnya ia ragu, karena sudah nyaman dengan suasana di Karawang. Tapi mengingat kodrat perempuan adalah ‘nderek’ suami, akhirnya ia menyetujui keputusan suaminya tersebut, meskipun masih dengan sedikit berat hati.

Termasuk di dunia henna, ia banyak meminta wejangan dari Bunda Dian Rosianti. Satu kalimat dari beliau yang tidak ia lupa, “Bismillah aja, kamu nanti akan membuka lahan di sana (Purworejo)”. Sebelum ia pindah, ia sudah banyak memposting di medsos-nya tentang rencana kepindahannya ini. Dengan harapan ada yang membutuhkan jasanya di sana, mengingat di Purworejo masih merupakan daerah pedesaan, ia belum begitu yakin akan melanjutkan bisnis hennanya.

Akhirnya sebelum pindah sudah ada yang memesan. Betapa senangnya Kak Anna, semakin menambah keyakinannya untuk pindah. Alhamdulillaah, berawal dari satu pengantin tersebut, ia memposting di medsos, Facebook, Instagram, akhirnya semakin lama semakin banyak yang mengenalnya di Purworejo.

Semakin banyak yang mengundangnya untuk ikut andil di hari bahagia mereka. Maka semakin berniat fokuslah ia untuk menekuni dunia henna ini. Meskipun sempat off sekitar sebulan, karena mengalami kecelakaan waktu berangkat untuk mengerjakakan henna putih. Tapi tentunya itu tidak mematahkan semangatnya.

Semakin hari semakin bertemu banyak teman dari para MUA dan tidak sedikit juga yang menawarkan kerjasama kepadanya. Bahkan ia pernah beberapa kali dipercaya untuk mengisi materi di beberapa sekolah, juga diajak untuk mengisi workshop di luar-luar kota. Suatu kebanggan tersendiri tentunya. Ternyata semenyenangkan ini jika menekuni hobi. Meskipun semakin banyak saingan, tapi ia yakin kalau rejeki tidak akan pernah tertukar.

Suka Duka

Pengalaman yang paling tidak terlupakan adalah ketika ia masih di Karawang dulu. Waktu itu ia mendapat job mendadak dari salah seorang perias. Beliau menelepon menjelang isya’. Awalnya suami tidak memberi izin karena khawatir akan pulang larut malam, apalagi kondisi Kak Anna waktu itu sedang hamil sekitar 7 bulanan. Tapi ia tetap meyakinkan suaminya, bahwa ia bisa menjaga diri.

Akhirnya beliau mengizinkan Kak Anna berangkat. Ia berangkat beriring-iringan motor dengan si perias tersebut dan ternyata lokasinya lumayan jauh, hampir satu jam perjalanan.

Benar saja, ia pulang dari rumah pengantin sekitar pukul 22.30. Karena rumah perias yang lebih dekat dari lokasi, akhirnya ia ditinggalkan sendirian pulang menuju rumah. Kak Anna sangat gelisah dan takut karena sudah sangat larut malam. Apalagi waktu itu sedang marak berita pembegalan di daerah Karawang dan sekitarnya.

Sepanjang perjalanan ia hanya mampu berdoa dan pasrah, berharap diberi keselamatan sampai rumah. Dan benar saja, kurang dari 2km sampai di rumah, rantai motornya lepas. Waktu itu sudah lebih dari jam 23.00. Yang bisa ia lakukan hanya menangis di pingir jalan. Suasana sangat sepi, tidak ada orang yang bisa ia harapkan bantuannya. Bengkel-bengkel pun sudah tutup. Sambil menangis ia tuntun motornya dan berharap tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.

Setelah berjalan hampir 1km, alhamdulillaah, akhirnya ia menemukan sebuah bengkel yang masih buka. Setelah diperbaiki, ia lanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, suami yang sudah sangat cemas menyambutnya dengan setumpuk pertanyaan. Ia hanya mampu bercerita sambil menangis. Kak Anna sadar ia memang sudah salah sejak awal karena tidak mendengarkan suaminya. Maka ia berjanji akan lebih bijaksana dalam setiap keputusannya mengambil job henna.

Tahun 2017, di sela-sela kesibukannya mengerjakan henna pengantin, ia mulai tertarik untuk mengerjakan Nail Art. Kembali ia hanya belajar otodidak, seperti saat belajar henna. Mencari alat dan bahan via online, mencoba sendiri, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi. Begitu terus sampai alat dan bahan yang ia pakai sudah entah habis berapa rupiah.

Hal ini sudah menjadi resiko belajar otodidak di bidang Nail Art yang ternyata modalnya jauh lebih banyak daripada belajar henna. Kak Anna pun berpesan, jika teman-teman ingin belajar Nail Art, ia menyarankan untuk mengambil kursus di pengajar-pengajar yang sudah terpercaya. Ini akan jauh menekan pengeluaran teman-teman di semua sudut. Mulai dari alat, bahan, juga waktu yang teman-teman habiskan untuk trial error.

Untuk bisnis henna di Purworejo saat ini, menurutnya sangat menjanjikan. Mengingat semakin berkembangnya kota Purworejo yang dekat dengan Bandara Yogyakarta International Airport, perkembangannya sangat pesat. Sementara untuk kendala menjadi Henna Artist di Indonesia sendiri adalah persaingan harga. Hal klasik yang hingga saat ini menjadi problematika.

Pesan

Pesan untuk Henna Artist pemula, apapun dan siapapun sainganmu, jangan sampai semangatmu dipatahkan oleh meraka. Tetap berkarya dan tuangkanlah imajinasimu. Kadang mereka yang menyepelekan pekerjaan kita adalah mereka yang sebenarnya ingin berada di posisi kita.

Artikel sebelumyaProfile of The Month September 2021 – Profil Nadia Cavabia
Artikel berikutnyaProfile of The Month November 2021 – Profil AW Henna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here