BAGAIMANA TUMBUHAN HENNA MENYEBAR

Juleha, kamu ngapain pagi-pagi nyariin aku?

“Ini lho, Kak. Aku masih penasaran sama penjelasan kakak minggu kemarin. Kakak kan bilang kalo awal mula henna itu dari Afrika Utara. Nah, gimana ceritanya tumbuhan itu bisa menyebar sampai jauh banget.”

Kan kemarin aku udah bilang, Juleha buka aja blognya Henna Page. Di sana lengkap banget informasinya.

“Lebih seneng diceritain sama Kakak, tau? Lebih mudeng.”

Bilang aja males karena musti baca Bahasa Inggris. Hehe.

- Advertisement -

“Aku tuh juga mudeng English, tau! Tapi lebih enakan diceritain.”

Biasanya kalo males, kamu Tiktokan.

“Lagi males liat Tiktok. Fyp-ku isinya pelakor mulu. Nggak suka ah, gelaaaay.”

Ah… ya sudah.

“Jadi gimana, Kak? Henna kok bisa nyebar ke mana-mana?”

Oh… itu. Minggu lalu kan aku sudah cerita, kalau henna tumbuh menyebar dari Afrika Utara sampai ke Ethiopia, lalu memanjang dari Yaman sampai melintasi Teluk Persia/Iran. Nah, kira-kira Juleha bisa nebak nggak gimana tumbuhan itu bisa nyebar sampai jauh banget?

“Kakak nih, ya? Aku tuh nanya karena nggak tau. Kok malah balik nanya? Ngapain susah-susah nanya ke kakak kalo malah ditanya balik?”

Hehehe. Iya-iya. Kalo gitu Juleha dengerin baik-baik, ya. Ini agak panjang soalnya.

“Asal nggak bikin ngantuk aja sih, aku bakal dengerin.”

Juleha lama-lama bikin pipinya pengen aku cubit, deh. Jadi… dulu banget. Sekitar 14.800 s/d 5.500 SM, daerah Sahara tuh sebenarnya bukan gurun. Tempat itu tuh subur dan jumlah debit airnya banyak karena curah hujan musimannya tinggi. Tapi, tiba-tiba aja Sahara mulai mengering. Semua ini ternyata karena perubahan iklim akibat perbedaan intensitas radiasi matahari di permukaan bumi.

“Lah, kalo mengering, otomatis gersang dong, Kak? Nggak ada air lagi.”

Bener, Juleha. Karena Sahara yang mengering itulah akhirnya manusia yang tadinya tinggal di situ padah pindah, nyari tempat yang oke untuk bertahan hidup. Nah, diyakini orang-orang dari Sahara ini yang bawa bibit-bibit henna, terus ditanam deh di tempat tinggal mereka yang baru. Hingga akhirnya jadi tradisi dan disebarluaskan.

Fakta yang lebih wow lagi, ternyata secara nggak sengaja, bibit-bibit henna itu disebar sama burung-burung yang bermigrasi. Jadi burung-burung itu makan buah henna, lalu benih-benihnya tanpa sengaja mereka sebar di sepanjang tempat transit mereka.

“Ah… masuk akal sih, Kak.”

Jadi, bisa ditarik kesimpulan, di mana henna tumbuh secara alami dan dibudidayakan, maka pemahaman dan penggunaan henna bergantung dengan budaya di mana henna itu tumbuh. Mudeng nggak?

“Ooh… jadi misal hennanya tumbuh di Arab, jadi orang-orang di sana pake henna sesuai budaya mereka ya, Kak?”

di mana henna tumbuh secara alami dan dibudidayakan, maka pemahaman dan penggunaan hENna bergantung dengan budaya di mana henna itu tumbuh

Iyap. Seperti itu. Budaya pemakaian henna berkembang secara berbeda di tiap wilayah. Buktinya tiap wilayah nyebut henna beda-beda, kan? Ada yang nyebutnya Kopher, Kuperos, Camphire, Henne, Kina, Cypros, Alcanna, dan banyak lagi.

“Wow… banyak ya sebutannya. Nah, terus Kak. Gimana ceritanya henna bisa sampai di India bahkan ke Indonesia?”

Kalo itu… sambung minggu depan lagi, ya. Aku mau ngeracik henna dulu.

“Halah, kakak racik-racik mulu, hennanya aja dipake sendiri, nggak ada orang yang mau pake henna kakak. Repot dan ribet!”

Biarin. Aku suka, kok.

“Ya… udah, deh. Aku mending Tiktok-an lagi. Sapa tau ada tutorial make up anti-badai.”

bersambung…


Cerita oleh Mirna Yuliana dengan data disadur dari Henna Page

Artikel sebelumyaCerita Henna – Part 1 : Henna Artist Pria
Artikel berikutnyaCerita Henna – Part 2 : Seniman Henna Natural

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here