Henna di Papirus Ebers

Sambungan dari Artikel Sebelumnya

“Dari mana, Kak? Jam segini baru pulang.”

Eh, kamu Juleha. Dari ngejob tadi.

“Tumben ngejob.”

Iya, alhamdulillah. Rejeki.

- Advertisement -

“Kakak pergi sendirian? Suami ke mana?”

Ooh… dia lagi ada kerjaan, jadi aku berangkat sendiri. Lagian deket, kok. Cuma di batas kota situ aja.

“Ih, kasihan banget. Kayak aku dong, selalu dianter Mas Bambang. Romantis kan?”

Iya-iya. Apa kata Juleha aja, deh. Trus kamu ngapain nongkrong di depan rumah?

“Lagi nungguin paket. Hennaku habis, Kak. Jadi musti order lagi. Jobku bulan ini banyak, sih. Jadi ya cepet habis. Emangnya kakak.”

Aku balik dulu ya, Juleha.

“Eits… bentar dong, Kak. Kok main pergi aja. Tunggu bentar.”

Habisnya Juleha bikin emosian mulu.

“Idih… gitu aja baper. Bentar, dong. Minggu lalu kan kakak cerita soal henna di Mesir yang digunakan buat warnain rambut. Nah, aku masih penasaran soal Papirus Ebers.”

Google aja, sih. Gampang kan.

“Nggak ada waktu.”

Bilang aja males baca. Sambil nungguin paket kan juga bisa nyari informasi. Juleha males, sih.”

“Lah… kok ngajak ribut.”

Udah, gitu aja baper… Hmmm… Oke-oke. Daripada yang baca makin sebel, mending aku jelasin aja.

Jadi minggu lalu aku udah jelaskan kalau Papirus Ebers itu berisi kumpulan catatan kesehatan. Nah, catatan ini ditulis tahun 1550 SM di Thebes, Mesir. Di dalamnya berisi ringkasan hampir sembilan ratus pengobatan dan formula obat yang dikumpulkan saat itu. Total ada empat puluh sumber yang berbeda di catatan tersebut. Isinya mulai tentang jenis penyakit dan cidera, gejala, diagnosis, perawatan, resep dan obat, sampai doa dan mantera juga tercatat di situ.

“Widih, lengkap banget! Orang Mesir bener-bener cerdas, ya.”

Papirus Ebers berisi kumpulan catatan kesehatan

Iya. Di Mesir sendiri henna disebut kupros atau Cyperus. Kadang disebut KPR, ini menurut konsonan huruf Mesir.

Nggak cuma mencatat soal jenis penyakit dan cara pengobatannya, Papirus Ebers juga mencatat informasi tentang tingkatan henna berdasarkan tempat panen, umur, dan bagian tanaman. Misalnya henna berdasarkan tempat panen. Ada henna from the north, henna from the fields, henna from the grass, dan henna from the marshes. Juleha tau nggak itu semua artinya?

“Nggak.”

Henna dari utara, henna dari ladang, henna dari rerumputan, henna dari rawa-rawa.

“Bisa dibedain gitu tempat tumbuhnya.”

Iya. Jadi ternyata tanah dan kelembaban tuh sangat memengaruhi tingkatan lawsone pada tumbuhan henna.

“Wah, padahal setauku henna ditanam di mana aja sih bakal tumbuh aja kan. Asal iklimnya cocok.”

Ternyata nggak sesimple itu, Juleha. Semakin lembab, subur, dan sejuk iklimnya, kandungan lawsone di henna itu rendah. Sementara semakin kering dan panas tanahnya, maka kandungan lawsone nya semakin tinggi.

“Berarti emang tumbuhan henna sukanya yang kering-panas gitu ya, Kak?

Iya. Jadi di mana henna dipanen, maka bisa diidentifikasi berapa tingkat lawsone-nya, apakah lawsone nya tinggi atau rendah. Umur tumbuhan dan siklus pertumbuhan juga memengaruhi karakteristik tumbuhan henna lho.

“Dan itu semua kecatet di Papirus Ebers?”

Iyap. Betul.

“Ih, keren abis, ya. Jaman itu udah ada catetan selengkap itu. Padahal waktu itu teknologi masih terbatas. Tapi orang-orang Mesir bisa sampai bikin Papirus Ebers.

Yah… begitulah. Udah, ya Juleha. Aku musti pulang, nih.

“Lah, emang udah selesai penjelasan Papirus Ebersnya?”

Belum. Tapi aku capek. Pengen istirahat.

“Halah… kerjaan cuma satu aja ngeluh capek. Aku aja yang sehari 5 job biasa aja, tuh.

Ya-ya, terserah Juleha aja, deh. Aku balik, ya. Bye!

bersambung…


Cerita oleh Mirna Yuliana dengan data disadur dari Henna Page

Artikel sebelumyaProfile of The Month April 2021 – Profil Magenta Henna Solo
Artikel berikutnyaCerita Henna – Part 4 : Curhatan Tukang Henna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here